Kisah ini berawal puluhan tahun lalu –dimana saat itu tokoh kita, yaitu Andre, masih merupakan seorang pria muda. Usia Andre tidak lebih dari 31 tahun. Yah, itu memang bukan usia muda, aku hanya bilang dia lebih muda bila dibandingkan dengan saat aku menulis kisahnya saat ini.
Dulu Andre –akrabnya kita panggil saja Dre, punya seorang kekasih yang sangat dia cintai. Bisa kukatakan bahwa dulu Dre sangat mencintai gadis itu. Dan dia rela memberikan apapun baginya, tak lebih dan tak kurang. Apa pun yang bisa dilakukan, pasti akan dilakukannya. Bahkan mungkin Dre akan bersedia mengorbankan dirinya sendiri demi membuktikan cintanya pada wanita itu.
Wanita itu dengan senang hati menerima lamarannya. Dan mereka dengan sangat bahagia merencanakan hidup baru. Sebetulnya aku tak tahu apa wanita itu sungguh-sungguh bahagia. Yang jelas, Dre lebih dari sekedar bahagia saat itu. Dia hampir setiap malam mengkhayal di kamar kos-kosannya, menatap langit-langit, cahaya lampu temaram, dengan gitar di pangkuannya. Dia bermimpi mengenai hidupnya. Mengenai anak-anaknya. Mengenai kebahagiaannya. Mengenai segalanya.
Terkadang dia tersenyum sendiri. Dan terkadang dia memekik, terbawa dalam lamunannya. Tapi yang pasti, Andre bahagia.
Tapi sayangnya kebahagiaan itu tidaklah berlangsung lama. Wanita itu meninggalkannya, memilih orang lain, memporak-porandakan dunia Andre yang malang. Dia bahkan tak tahu, itu merupakan mimpi buruk atau bukan.
Andre bagaikan kapal terombang-ambing dalam badai. Dia bangun karena dia harus bangun. Dia bekerja karena dia harus bekerja. Dia makan karena dia harus makan. Dia hidup karena dia harus hidup. Dia melakukan segalanya atas dasar keharusan, bukan kemauan. Andre bahkan merasa hidup ini tak ada artinya lagi. Bila dia boleh memilih, dia akan memilih untuk tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.
Apalah dirinya sekarang?
Dia hanya seorang bujangan tersiksa, tanpa cinta, tanpa motivasi, tanpa harapan. Dia tak punya siapa-siapa. Dia sendirian. Ditinggalkan oleh seseorang yang begitu dicintainya telah membuatnya berpikir, begitu burukkah dirinya? Begitu tidak berhargakah dia? Begitu mudahkah dirinya untuk dilupakan? Apakah merupakan sebuah kesalahan kalau dia berpikir bahwa dia bukanlah siapa-siapa?
Andre tak pernah menuntut banyak. Dia hanya ingin agar wanita itu setia, menghargainya, mengerti dia, dan mencintainya. Sanggup mendampinginya dalam meraih segala impian. Selalu ada di sisinya dalam suka dan duka. Selalu menyisipkan Andre dalam hati dan pikirannya walau sesibuk apapun wanita itu.
Hanya itu yang dimintanya…
Tapi rupanya itu bukanlah hal kecil yang cocok untuk disebut: ‘hanya’.
Justru itulah yang tak pernah bisa ditemukannya dalam diri wanita manapun. Padahal di sekelilingnya ada banyak wanita yang memuja dirinya. Mereka semua menginginkan Andre. Dan Andre tahu bahwa wanita-wanita itu menghargai dirinya. Mereka menghargainya sebagai seorang pria tampan yang maskulin. Sebagai sosok jantan yang mempesona. Mereka menghargainya sebagai seorang pria dengan sosok rupawan.
Para wanita menghargainya karena itu semua. Tapi tak satu pun bisa dan mau menghargainya sebagai seorang pria yang punya jiwa. Tak seorang pun bisa dan mau mengerti dia sebagai pria yang butuh cinta. Dia butuh mencintai, dan butuh dicintai. Dia ingin wanita-wanita itu mengerti dan paham bahwa dia tak ingin dicintai karena penampilannya. Dia ingin bahwa apapun keadaannya, seperti apapun dia, cinta itu akan selalu ada untuknya. Dia tak perlu dipuji dengan bola mata, dia ingin dipuji dengan mata jiwa, mata hati, yang diberikan Tuhan dalam nurani para wanita itu.
Dan Andre tak bisa menemukan wanita seperti itu…
***
Perlu kalian ketahui latar belakang kehidupan Andre.
Dia adalah seorang anak bungsu dari lima bersaudara. Dua kandung, dua tiri. Dan dia yang terakhir dari urutan bocah-bocah itu. Konon, Dre punya ayah yang menikah dengan seorang wanita dan punya dua anak. Setelah akhirnya dipertahankan dengan pertahanan yang lemah, akhirnya wanita itu meninggal dunia. Dan selang beberapa waktu kemudian sang ayah menikah lagi dengan adik iparnya –atau adik dari almarhumah istrinya. Dan dari wanita itu beliau memiliki tiga anak. Anak terakhir itu yang kini kita kenal dengan sebutan Andre.
Andre akhirnya tumbuh sebagai seorang laki-laki yang mengaggumkan. Dengan begitu banyak kelebihan yang tadi telah dijabarkan pada bagian sebelumnya. Dia tumbuh mandiri dan percaya diri. Taat pada Tuhan dan selalu bersyukur.
Dan dia senang beradu dengan nasib. Walau kita tahu Andre pernah kalah taruhan dalam hidupnya, dan dewa penggaris takdir sempat menertawakannya, Dre tak mau menyerah begitu saja. Dia yakin suatu saat Dia akan menghargai ketegaran yang selalu disandangnya.
Kemudian Dre meniti karir sebagai seorang guru SMP. Dia bahagia dengan profesinya. Anak-anak semua menyukainya, dan pelajarannya bukan salah satu dari sekian banyak pelajaran yang dibenci siswa. Seluruh personil sekolah akrab dengannya. Prestasi mengajarnya mendekati sempurna. Andre sangat berhasil dalam hal ini. Tapi membicarakan soal kehidupan asmaranya, dia masih tetap belum menemukan sosok yang selalu diidam-idamkannya. Dan saat akhirnya Andre menemukannya, sosok itu ada dalam diri seseorang yang tak boleh diharapkannya.
Andre merasa bangga dicintai oleh gadis semacam dia. Begitu hangat dan tulus. Dia mencintai Andre tanpa alasan –hanya karena dia ingin, itu saja. Dan Dre tahu gadis itu memiliki apa yang selalu diimpikannya. Andre sadar bahwa dia juga menyukai gadis itu, menyayanginya, menghargainya, menginginkannya, dan juga… mencintainya?
Tunggu dulu!
Gadis itu tak boleh bersamanya. Dia masih 13 tahun, masih kelas 2 SMP, masih remaja. Dan 18 tahun lebih muda darinya. Dan apa Andre yakin gadis itu akan terus mencintainya, padahal hidup gadis itu masih sangat amat panjang? Dan apa Andre yakin akan bisa menunggu gadis itu, paling tidak untuk 8 tahun lagi?
Bila hanya menunggu, dirinya pasti mampu. Tapi nasibnya tidak begitu. Andre hanya perlu berpikir, bila nanti dia menikah dengan gadis itu, usianya saat memiliki anak akan sudah ‘kelewat batas’. Dan Dre tak mau saat dia pensiun nanti, anaknya belum bekerja. Andre bukan orang kaya, untuk menyekolahkan anaknya dia perlu bekerja.
Dan setelah memikirkan hal itu panjang lebar, setiap detik, tanpa ada satu hal pun yang terlewat, Andre akhirnya sadar, dia tidak berani untuk bertaruh sekali lagi. Usianya kini –yang sudah nyaris 32, tak lagi bisa disebut muda untuk bertaruh dengan cinta. Dia takut untuk kalah lagi, menjadi pecundang lagi.
Maka walau menyakitkan, walau sulit untuk dikerjakan, Andre akhirnya tahu, cintanya harus kandas sekali lagi. Dia tak bisa mengharapkan gadis itu untuk menjadi pendamping hidupnya.
***
Nah, dari sinilah ceritaku yang sesungguhnya dimulai. Mulai sekarang aku tidak akan menceritakan segala sesuatunya secara cepat dan ringkas seperti yang telah kulakukan dalam beberapa bagian sebelumnya. Mulai kini aku akan menceritakan setiap detail, hingga kalian bisa mengerti perasaan yang sebenarnya ada dalam sanubari mereka yang hidup dalam cerita ini.
Aku mulai saat liburan sekolah, mengenai kepulangan Andre ke Cijeruk –kampung halamannya. Di sana dia bermaksud ingin mengunjungi ibunya –sesuatu yang selalu dilakukannya setiap akhir pekan, sekaligus melepas stress yang telah dialaminya selama seminggu di Jakarta. Dre senang bila akhir pekannya bisa dihabiskan di sebuah desa asri, indah, dan juga tenang, seperti yang selalu dirasakannya bila berada di rumah.
Seperti kebiasaan minggu-minggu sebelumnya, rencananya sangatlah simpel.
Andre hanya perlu mengendarai motornya beberapa lama, masuk ke kawasan Lido, menuju Cijeruk, mencari rumahnya, memarkir motornya di sana, masuk dan menyapa ibunya, istirahat sebentar sambil menikmati ketenangan, dan kemudian merasakan indahnya menjadi anak seutuhnya –dengan ibu dan keluarga yang ada disampingnya. Sejenak dia akan kembali menjadi bocah tujuh tahun lagi, tanpa pekerjaan, tanpa kos-kosan, tanpa kesendirian. Dia bisa selalu dekat dengan orang tuanya. Dan pada hari Minggu sore, Dre akan pamit pada ibunya, kembali ke Jakarta, istirahat, dan bersiap-siap untuk mengajar lagi keesokan harinya.
Hanya itu yang pernah dilakukannya, hanya itu yang ingin dilakukannya, dan hanya itu yang sedang dilakukannya. Tapi rupanya kepulangannya kali ini tidak bisa sesederhana itu…
Secara kebetulan –entah itu memang kebetulan atau bukan, yang jelas Dre selalu menyebutnya sebagai kebetulan, waktu itu ada sebuah pertemuan antar keluarga di desanya. Waktu itu Dre hanya berpikir: aku sudah lama tidak berkumpul dengan para tetanggaku, kangen juga rasanya, dan apa pula salahnya bila aku menghadiri pertemuan itu?
Dan sambil menemani ibunya, Dre pun berjalan menuju tempat pertemuan. Dengan wajahnya yang selalu tersenyum dan perawakannya yang riang, Dre pun disambut hangat oleh semua orang yang hadir. Mereka semua terkejut melihat Dre. Ada yang terkejut karena tak menyangka Dre akan datang hari itu, ada juga yang kaget karena Dre sudah begitu dewasa, karena beberapa dari mereka mengenal Dre hanya ketika dia masih remaja.
Satu kejutan lagi. Andre dikejutkan oleh sapaan halus Vivi.
Dan ketika Dre menoleh, matanya langsung berbinar-binar gembira. Dia langsung berteriak pada gadis itu dan mengajaknya ngobrol. Dre sangat senang bisa berjumpa lagi dengan Vivi. Dan Dre tidak bermaksud menyembunyikan perasaan itu.
Vivi adalah teman main Andre sewaktu dia masih kecil. Dia sedikit lebih muda dari Dre. Dulu, kemana-mana mereka selalu bersama. Main bersama, belajar bersama, segalanya bersama. Dan seiring berjalannya waktu semua itu harus berubah.
Mereka mulai membicarakan kekonyolan mereka sewaktu kecil. Dan mereka bahagia mengenangnya. Itu adalah sebuah memori indah yang tak mungkin dilupakan. Dan akhirnya Andre menceritakan kehidupan cintanya pada Vivi. Sebab Dre percaya, Vivi adalah sahabat terbaiknya. Dulu, sekarang, dan dia harap akan begitu selamanya. Dia yakin Vivi bisa mengerti, dan menampung seluruh masalahnya tanpa provokasi, tanpa pelecehan, tanpa penyalahan, dan tanpa pemojokan. Vivi akan membuat bebannya lebih ringan, seperti apa yang selalu dilakukannya sewaktu mereka kecil dulu.
***
Andre menceritakan mengenai wanita kejam yang meninggalkannya dulu. Andre menceritakan semuanya. Tentang betapa bahagianya mereka dulu, betapa banyak impian yang telah disusunnya, dan betapa besar luka hatinya akibat goresan itu. Tapi, perlu kukatakan bahwa Andre tidak menyinggung soal muridnya itu sama sekali. Itu tidak perlu dibicarakan. Itu adalah sesuatu yang konyol. Vivi akan menyebutnya gila.
Andre mengatakan betapa hancur dunianya waktu dia tahu wanita itu meninggalkannya demi laki-laki lain. Bahkan Dre mengaku tak mampu menahan dunia yang perlahan-lahan runtuh dihadapannya. Dia tak sanggup melindungi dirinya dari pisau tajam yang jatuh bagai hujan dari angkasa. Dia tak sanggup melarikan diri dari bara api yang semakin membakar hatinya. Dre menyatakan bahwa dia sangat menderita.
Dan Vivi tidak bereaksi atas hal itu. Dia hanya berkata, “Aku tahu dan sangat mengerti. Aku tak akan menyalahkanmu seandainya ada bagian dari dirimu yang berubah. Tapi aku juga tak akan sepenuhnya menyalahkan wanita yang telah meninggalkanmu tadi. Sesungguhnya kamu harus tahu, Andre, bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk mencari yang lebih baik bagi dirinya. Dan mungkin saja wanita itu menganggap kamu tidak cukup baik baginya, atau mungkin dia menganggap ada yang lebih baik dari kamu.”
Andre hanya termenung memikirkan hal itu.
Dan Vivi melanjutkan, “Jangan penuhi hatimu dengan benci. Bila kamu anggap wanita itu jahat, berpikirlah begini: kita hanya manusia apa adanya. Kita memang pernah disakiti, tapi kita juga pernah menyakiti orang lain, bukan? Tuhan itu adil, Dre.”
Dan pernyataan Vivi tadi membuat pikiran Andre melayang pada muridnya. Ya, dia telah menyakiti anak itu. Tapi dia tak mau murid tadi menganggapnya jahat dan keji. Tidak, bukan itu sesungguhnya yang Andre maksudkan. Dre hanya ingin mencari yang terbaik bagi hidupnya. Mungkin murid tadi juga sudah cukup baik untuknya, tapi seperti kata Vivi tadi, manusia selalu ingin yang lebih baik lagi.
“Aku pernah merasakan hal yang sama, Dre. Baru saja aku ditinggalkan oleh kekasihku. Dan itulah alasan mengapa aku sangat mengerti keadaanmu.”
Andre memandangnya dengan bingung. Dan Vivi menceritakan pengalamannya yang kurang-lebih sama dengan Andre. Dan Andre merasakan ada sesuatu yang lucu diantara mereka saat ini.
“Vi, apa kamu tidak ingin tertawa?” tanyanya.
Vivi mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Kita memang bersahabat, tapi mengapa kok sampai nasib percintaan kita pun kembar? Itu adalah suatu kebetulan yang lucu sekali!” ujar Dre tertawa ringan.
Kemudian selama beberapa lama keduanya terdiam, larut dalam lamunannya masing-masing. Dan ketika Dre memandang Vivi, dia sadar akan satu hal. Mungkin wanita inilah yang selama ini dicarinya. Wanita yang mengerti dia. Dan lagipula mereka sudah kenal sejak kecil, jadi sudah sangat mengenal satu sama lain. Dan mereka sepertinya cocok. Dan tak akan ada yang menentang seandainya antara mereka terjalin hubungan.
“Vivi, aku rasa akan sangat menyenangkan bila kamu mau menjadi sahabat abadiku.”
“Maksudmu?” Vivi bertanya bingung.
“Vi, kita sama-sama menderita karena cinta. Dan kita sudah cukup merasakannya. Kita pantas untuk bahagia. Aku belum bisa melupakan rasa kecewaku, dan aku tahu kamu juga begitu. Tapi kita tak bisa selamanya begini. Kita harus mencari jalan keluar. Usia kita bukan lagi muda untuk terus menunggu dan berharap. Ini saatnya mengambil keputusan. Kita tak boleh memikirkan diri kita sendiri. Tapi juga generasi selanjutnya. Dan aku ingin kamu mengerti, atau setidaknya kamu mencoba untuk mengerti, bahwa sekaranglah saatnya dimana segalanya belum terlambat. Kita harus bergerak cepat, Vivi!”
“Sekali lagi kuulangi pertanyaanku, Dre. Apa maksudmu?” Vivi menanyakannya dengan serius.
“Mungkin lebih tepat bila pertanyaannya kau ganti dengan ‘apa maumu?’, oke?” tawar Dre.
“Baiklah, sekarang apa maumu?”
“Aku mau kamu.” Andre menarik nafas panjang sebelum melancarkan pertanyaan terakhirnya –yang merupakan akhir dari semua pertanyaan. Pertanyaan akhir yang hanya bisa dibalas dengan jawaban. “Vivi… menikahlah denganku.”
***
Semua terjadi begitu cepat. Mereka pernah saling terluka. Dan kini mereka punya sebuah harapan baru. Yaitu harapan untuk memulai hidup baru bersama.
Dan sekarang aku ingin membuat sedikit perubahan. Bila sepanjang kisah ini aku menceritakannya dari sisi Andre, mewakili perasaan Andre, sekarang aku ingin membuat pengecualian. Dalam bagian ini, aku akan menuliskan kisah dari sisi Vivi.
Inilah yang dipikirkannya menyangkut tawaran Andre.
Awalnya dia sangka itu hanyalah omong kosong. Tapi Vivi tahu bahwa itu bukanlah seperti yang dipikirkannya. Vivi tahu Andre serius. Dan Andre telah mengutarakan alasannya. Andre bilang dia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menikah dan punya keturunan. Pasalnya, Andre tak mau saat dia sudah pensiun nanti, anaknya belum mendapat pekerjaan yang pasti. Dia tak mau anaknya kekurangan dalam hal apapun. Entah itu pendidikan, entah itu finansial, segalanya. Dre ingin yang terbaik bagi anaknya.
Dan bila tak menikah sekarang, entah kapan Dre akan punya keturunan. Dre ingin sekali mengajarkan hitam-merah kehidupan pada putra-putrinya. Walau setelah begitu banyak benjolan dalam perjalanan nasibnya, Dre tahu tak banyak yang bisa diajarkannya.
Dan Vivi sedang menimbang-nimbang untuk menerima tawaran itu. Vivi sangat menyayangi Dre dan ingin membantu Dre mewujudkan impiannya mengenai anak-anak itu. Vivi sangat kagum dan hormat pada Dre. Tapi soal cinta? Itu lain lagi.
Selama ini Vivi mencintainya sebagai kakak, teman, sahabat, teladan hidup, pembimbing, dan saudara. Tapi dia tidak mencintai Dre sebagai seorang laki-laki. Tidak, itu tak pernah tersirat dalam bayangannya. Dan kini dia dihadapkan dengan pertanyaan: ‘Menikahlah denganku’.
Dan itu membuat Vivi pusing. Ini bagaikan mimpi. Sebuah mimpi yang dia tak tahu harus dibangunkan atau tidak. Karena bila dia mau menerima Andre, segalanya akan berubah. Segalanya akan menjadi aneh. Asing.
Tapi, Vivi tahu Andre benar. Usia mereka bukan tawaran yang menyenangkan lagi untuk bertaruh dengan cinta. Memang hidup dengan orang yang dicintai sangatlah sempurna. Tapi dalam hal ini itu tak bisa terwujud. Dan Vivi tak mau berlagak menjadi pahalawan cinta seperti yang ada dalam cerita novel dan film, yang bila tidak dengan orang yang dicintainya, tak akan ada pernikahan.
Vivi tahu dia tak akan mengambil pilihan itu. Dan Vivi tahu itu berarti dia akan –harus, menikah dengan Andre…!
***
“Kita akan mencoba hidup baru, Vivi. Dan aku hampir sepenuhnya yakin bahwa kita akan berhasil. Tak ada yang perlu kita cemaskan, Vi! Aku akan mampu melupakan kekasihku, kamu akan mampu melupakan kekasihmu,kita akan punya anak yang lucu, dan kita akan bahagia!” bujuk Dre.
Tapi Vivi diam saja.
“Vivi?” Dre mendekatinya dan memegang pundaknya. “Apa yang kau pikirkan? Kamu meragukanku?”
“Aku tak meragukanmu, Dre. Aku tak meragukan janji-janjimu barusan. Mengenai kehidupan kita yang bahagia dan anak kita nantinya. Tapi satu yang ingin kutahu darimu.”
“Apa?” tanya Dre.
“Apa kamu sendiri yakin dengan janji-janji itu?”
Andre menghembuskan nafas panjang. “Tidak, Vivi. Aku tidak yakin. Tapi seperti yang kamu bilang, itu adalah keputusan terbaik. Dan kita harus berani mengambilnya.” Dre melanjutkan, “Lagipula sudah kukatakan padamu, kita sudah terlalu terlambat untuk memasang taruhan lagi dengan takdir kita. Ini sudah tak ada artinya. Sudah tak mungkin. Hanya pernikahan ini masa depan kita. Hanya ini kesempatan kita. Untukmu, dan untukku.”
“Tidakkah kau sadar bahwa pernikahan ini juga merupakan sebuah taruhan?” tanya Vivi.
“Aku sadar. Tapi aku tak punya pilihan lain. Walau nanti rumah tangga kita berantakan, kita tidak bahagia, dan rencana kita tidak berjalan mulus, aku tidak akan menyesal karena setidaknya kita sudah mencoba,” tegas Dre.
Vivi terdiam lama sekali. “Aku akan menikah denganmu.”
Andre tersenyum kecil mendengarnya.
“Lagipula, Dre, kamu telah menjadi bagian terbaik dari hidupku sekian lama. Jadi walau nanti pernikahan kita gagal, aku tak akan menyesalinya karena aku telah menjalani waktu-waktu itu dengan seorang teman paling hebat yang pernah aku miliki.”
***
Demikianlah akhirnya pernikahan dilangsungkan di kediaman Vivi. Semua orang bahagia dengan pernikahan itu. Satu-satunya orang yang mungkin menayayangkannya hanya si murid malang tersebut.
Andre dan Vivi menikah setelah mereka mengalami pemikiran matang yang singkat tapi padat. Dan malam ini, ditemani semilir angin sepoi-sepoi di beranda rumahnya, Andre memandang ke langit yang penuh bintang.
Mulai saat ini dia tidak akan jadi Andre yang sama lagi. Dia bukan lagi Andre si bujangan ganteng yang bisa seenaknya. Bukan lagi Andre yang bebas.
Kini dia adalah Andre, seorang pengantin baru yang sedang bertaruh dengan nasib. Yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya, memiliki tanggung jawab besar terhadap istrinya. Dan tidak boleh lagi hanya memikirkan dirinya. Dia harus menjadi Andre yang baru.
Dan dia pun berpikir. Dua bulan yang lalu dia hidup di tempat yang berbeda, dengan gaya hidup yang berbeda, tanggung jawab yang berbeda, tujuan hidup yang berbeda, sebagai orang yang berbeda, dan sama sekali belum menjlin kasih dengan wanita yang kini menjadi istrinya.
Bagaimana mungkin hidup bisa berubah sedemikian drastisnya dalam waktu dua bulan?
Dan Andre mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia harus memulai hidup baru dan melupakan masa lalu. Semuanya akan berbeda. Walau itu akan memakan waktu lama, Dre tidak peduli. Sebab sekarang dia bukan lagi pria putus asa yang kehilangan motivasi hidup. Bukan lagi pria yang lebih memilih tidak pernah dilahirkan daripada menderita lagi. Bukan lagi pria yang takut memandang ke depan. Bukan lagi pria yang menganggap hidupnya tidak berarti.
Sekarang dadanya penuh gejolak. Dia sangat bersemangat. Dia tak ingin menyia-nyiakan hidupnya. Waktu begitu berharga, tak ternilai. Dia tak peduli apa yang akan terjadi satu minggu lagi, atau sebulan lagi, atau setahun lagi, atau sepuluh tahun lagi. Dia tak peduli! Dia ingin hidup hingga seratus tahun, seribu tahun, dia ingin hidup selamanya!
Karena dia bahagia…
Dan berhubung Vivi masih membenahi kamar pengantin mereka, Douglas mengambil gitarnya untuk mengisi waktu. Gitar –sahabatnya sedari dulu, satu-satunya yang tahu semua rahasianya, semua tentang dirinya. Andre menyanyikan beberapa lagu sebagai tanda perpisahan bagi wanita-wanita dalam kehidupannya dulu. Malam ini, saat sang bintang membanjiri langit, akan hanyut pulalah kehidupan hampanya itu.
Dan saat Vivi tersenyum padanya dari balik daun pintu, Dre sadar bahwa inilah taruhannya. Untuk menambah kesempurnaan kehidupannya, dia perlu satu tanggung jawab lagi. Seorang istri telah dia miliki, dan sekarang dia perlu untuk memiliki satu tanggung jawab lagi yang masih kurang. Dan kinilah saatnya membangun tanggung jawab itu. Tanggung jawab yang telah membuatnya mengambil keputusan untuk bertaruh sekali lagi…
***
Aku tak menyangka dua puluh lima tahun begitu cepat berlalu. Mereka sedang merayakan ulang tahun pernikahan perak mereka. Dan aku begitu lega mengetahui bahwa Andre dan Vivi berhasil melaluinya dengan baik. Seluruh impian mulia mereka terwujud dengan mulusnya. Mereka memenangkan taruhan ini. Dan tak ada orang lain yang lebih ingin mengucapkan selamat pada mereka melebihi aku.
Mereka berhasil membangun sebuah rumah tangga yang harmonis. Dan Vivi telah memerankan bagiannya sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Seperti halnya Andre telah menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang hebat, dan aku bisa mengatakan bahwa dia telah menjadi seorang ayah yang luar biasa.
Aku mencintai Andre…
Aku sangat mencintai ayahku itu…
Saat aku sedang bimbang dia bersedia ada di sisiku. Saat aku sedang senang dia cukup bijaksana untuk tidak menganggu kebahagiaanku. Bahkan di sela-sela kesibukannya dia selalu menyempatkan diri untuk menolehkan wajahnya padaku, menyapaku, dan memperkenalkan sahabatnya –si gitar padaku. Dan saat dia berkata, “Kaulah hartaku yang paling berharga. Aku tak akan pernah menjadi pria seperti sekarang ini tanpa kau,” aku merasa menjadi anak paling bahagia di dunia. Tidak ada ungkapan yang lebih indah dari kata-kata itu. Aku merasa sangat berguna.
Aku menyukai Andre sebagai seorang ayah, seorang kakak, seorang sahabat. Aku bahkan tak tahu, bagian mana dari dirinya yang lebih kunikmati. Yang kutahu adalah, aku tak akan ada tanpa dia. Aku sayang padanya.
Dan aku berterimakasih padanya… atas semua waktu dan kasih sayang yang telah dia curahkan untukku. Atas semua bimbingan dan pelajaran yang telah dia berikan padaku. Tapi yang lebih utama, aku berterimakasih padanya karena dia telah menceritakan sebuah kisah paling indah yang pernah kudengar.
Tanpa dia aku tak akan ada. Dan tanpa dia tak akan pernah ada cerita ini. Tanpa dia tak akan pernah ada seorang ayah yang sudi membuka rahasia hidupnya sendiri pada anaknya. Tanpa dia, tak akan ada apa-apa.
Dan yang jelas…
Mereka tetap Andre dan Vivi yang hebat.
Tokoh paling hebat dalam ceritaku, sekaligus tokoh paling hebat dalam hidupku.
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar
Sundul gan! Ane ga kenal yang namanya spam...