Suatu saat Syaikh berjalan kaki pulang dari masjid Al-Jaami’ Al-Kabier. Di depan sebuah toko, di perempatan, Syaikh melihat seorang pemuda Mesir sedang merokok.
“Hai, anak muda. Merokok itu haram hukumnya. Apalagi ini kota para santri, sangat tidak baik merokok, apalagi di pinggir jalan seperti ini.”
Ujar Syaikh dengan suara lembut, dengan senyum.
“Hey, apa urusanmu? Kalau ini haram, yang berdosa aku, bukan kamu.” Bentak pemuda itu kasar.
“Ya, terserah kamu saja.” Ujar Syaikh lembut.
Saat berjalan beberapa langkah, beberapa orang menyalami beliau. Syaikh menyambut dengan senang. Namun di belakang mereka, terlihat wajah pemuda berubah pucat.
“Apa dia itu syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin? Kenapa hanya berjalan kaki?”
Tanyanya.
Pemuda itu segera mendekati Syaikh dan menubruk kakinya. “Afwan Syikh. Saya tidak tahu kalau Anda adalah Syikh…”
“He. Saya tidak peduli Anda itu kenal saya atau tidak. Seharusnya Anda takut terhadap yang haram, bukan karena saya melihat Anda. Biarkan hanya seorang anak kecil yang mengingatkan Anda, seharusnya Andar tetap menerima. Tadi saya tidak marah. Tapi begitu melihat Anda mengiba-iba hanya karena melihat saya, justru saya menjadi marah. Pergi sana, sebelum saya betul-betul marah…”
“Ya… ya Syaikh…” ucap pemuda itu terbata-bata.
“Rokok sial. Seumur hidup aku tidak akan mengisapmu lagi…”
Beberapa pemuda di belakangnya, tertawa tertahan-tahan.
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar
Sundul gan! Ane ga kenal yang namanya spam...